Seribu Penghargaan Buat Mereka Yang Sudi...

BLOG ENTRI RENCAM DARIPADA AKU... JEMPUT KE SANA YE..

Rabu, 20 Oktober 2010

Untuk Follower...

Salam buat follower baharu atasnamaaku..
Kalian sangat dihargai dan dialu-alukan...
Malangnya.. ada follower yang saya gagal mengesani blognya..
Saya mohon kalian berikan link di laman Cbox saya..
Atau apa-apa cara yang selesa bagi kalian..
Jika kalian follower saya.. maka , pasti saya akan berbangga menjadi follower kalian..
Malah saya akan terkilan jika saya gagal menjadi follower kalian.. percayalah..
Tentang soal loghat Perak.. jangan risau.. dua tiga kali bertandang.. kalian terbiasa juge..
Sekali lagi.. Saya mohon sangat-sangat...
BERIKAN PELUANG SAYA MENJADI FOLLOWER KALIAN..(khas buat follower atasnamaaku..)

Selasa, 19 Oktober 2010

Dan Sebenarnya...Aku...

Tajuk yang di atas dipilih pertama kerana minatkan lagunya. Kedua, kerana agak sesuai dengan apa yang bakal aku repekkan..

Seorang kawan sekerja bertanya tentang setakat mana betulnya cerita yang aku kongsikan dalam blog aku ni.. Mungkin ke aku mereka-reka cerita ?. Aku juge dipersoalkan tentang kewajaran menulis dalam loghat Perak. Turut ditanya ialah tentang sikap aku yang kadang-kadang 'copy' and 'paste' artikel blogger lain.  (Buat pengetahuan korang, hampir 98% pengikut dalam blog ini tidak pernah aku kenal secara 'live'.. Sungguh. Dalam kalangan kawan sekeje, tiada sorang pun yang mempunyai blog... walaupun blog ini asasnya dibina oleh sorang daripada mereka kerana dia menyedari minat aku yang suka menulis.)

Biarlah aku jelaskan... 
Sesungguhnya, aku membesar di sebuah daerah yang daif sekitar  akhir tahun 70-an.. Terlalu banyak peristiwa yang terasa janggal jika dinilai oleh generasi moden. Aku memberikan jaminan bahawa 95% kandungan cerita aku adalah BENAR. Selebihnya adalah sedikit perencah bagi kelancaran cerita. Biasanya, watak yang dipaparkan bukanlah nama sebenar (nama kawan-kawan aku itu benar). Tujuan penyamaran itu adalah untuk menjaga rasa hormat aku kepada mereka biarpun aku tahu bahawa mereka tidak mungkin menjenguk ke blog picisanku ini. Bagi mereka yang membesar pada zaman itu, tentu akan mengakui.. begitulah kami dahulu. 

Ada masanya aku menggabungkan satu dua cerita dalam satu kisah. Tetaplah BENAR. Cuma... sebenarnya peristiwa itu berlaku pada waktu dan tempat yang berbeza. Tujuan aku hanyalah untuk memanjang cerita. Tapi percayalah.. ia BENAR. Lagipun..apalah guna aku mereka-reka cerita padahal, niat aku yang asal adalah untuk merakam sebahagian daripada kisah peribadiku untuk aku persembahkan buat-buat anak-anakku. Biarlah mereka melihat ayah mereka dari 'sisi' yang berbeza...Dan sebenarnya... niat itu terus kekal...

Aku menggunakan loghat Perak kerana aku berbangga untuk dikenali sebagai rakyat Perak yang datang dari salah sebuah kampung di Kuala Kangsar. Justeru menyedari ramai yang 'kepeningan' dengan loghat itu, maka aku sulami dengan cerita yang menggunakan bahasa 'biasa'. Itu sahaja alasannya...Titik !

Tentang 'copy' and 'paste' pula... Secara jelas aku nyatakan bahawa tujuan aku adalah untuk dijadikan sebagai koleksi peribadi. Bukan aku tidak mampu menghasilkan artikel berbentuk fakta begitu... aku yakin dan pasti aku mampu (alamak..! macam angkuh pulak.. Maaf )... tetapi jika sudah 'ada' dan dinilai menepati 'mahu'ku...mudahnya..'copy' and 'paste' lah. Dan sebenarnya... aku cukup bimbang jika aku terlupa menyatakan sumber artikel itu diambil.. Sungguh..

Robinhood.. Si Pencuri Dermawan


diambil dan diolah serba sedikit daripada..
wtriatno.multiply.com/journal/item/20 
sebagai koleksi peribadi 

ROBIN HOOD
Legenda atau Sejarah?


Cerita tentang Robin Hood adalah hikayat yang menjadi legenda sejak era pertengahan. Kisah heroik perjuangan seorang penjahat budiman pembela rakyat jelata dalam melawan tirani yang kejam ini seakan tidak pernah berhenti untuk di ceritakan. Apalagi cerita ini dipenuhi dengan kisah cinta yang mengharu biru dan persahabatan yang mengagumkan. Cerita tentang Robin Hood terbukti tidak lekang oleh zaman walau sudah diceritakan ratusan tahun dan mungkin berdasarkan kisah nyata.

Legenda itu  bermula di sebuah tempat di inggris raya, Nottinghamshire yang dipimpin oleh Tirani kejam, Sheriff of Nothingham, Robin Hood tampil sebagai pahlawan rakyat jelata dan sekaligus musuh bagi para penguasa dengan merampok kaum berada dan membagikannya pada rakyat jelata. Robin Hood dikisahkan memiliki pasukan berjumlah 140 orang dengan basis pergerakan di hutan Sharewood dan di bantu oleh teman-temannya yang di kenal dengan The Merry Men : Little John, Friar Tuck, Maid Marion, Allan a Dale, Will Scarlet, Much The Miller. Berdasarkan cerita John of England, Pangeran John di ceritakan sebagai tokoh antagonis, saat perebutan tahta dengan Richard.

Ahli sejarah dan peneliti memiliki kesimpulan yang sama bahwa Robin Hood mungkin pernah hidup di akhir abad 13 sekitar tahun 1261 - 1300. Seseorang, mungkin lebih dari satu, bernama Robin hood pernah hidup di beberapa waktu yang berbeda. Catatan pengadilan Kota York mencatat seseorang bernama Robert Hod, seorang penjahat di tahun 1225/6. Di tahun-tahun berikutnya, setidaknya ada 8 orang bernama Robin Hood, Robehood atau Hobbehod di sekitar inggris (dari Berkshire hingga York selatan) dan paling tidak 5 orang diantaranya adalah penjahat. Di sepanjang tahun 1226 pula Sherrif of Notingham, William de Grey, berhadapan secara aktif dengan pemberontak di Hutan Sherwood. Sepertinya pada saat itu, beberapa pemberontak dan juga penjahat atau pelarian dari hukuman kebanyakan lari dan bersembunyi di hutan itu. Karena hutan tersebut dianggap berbahaya dan biasanya orang-orang menyeberangi hutan tersebut dalam kelompok-kelompok besar untuk menghindari ancaman penyergapan dan pembajakan. Bersamaan dengan itu cerita tersebut berkembang menjadi legenda.

Pada tahun 1850, ditemukan catatan sejarah yang menarik perhatian tentang seorang pengembara bernama Robert Hood, Anak dari Adam Hood. Ia lahir pada tahun 1280 dan hidup bersama istrinya Matilda di Wakefield, Yorkshire. Referensi tersebut dibuat asums bahwa mereka adalah Robin dan Marion dari Sherwood.

Di tahun 1261, sebuah catatan kepolisian menceritakan William de Fevre yang pada tahun berikutnya sebagai pelanggar hukum yang dikenal sebagai William Robehood atau Robin Hood. Hal ini menjadikan nama itu populer dikalangan pelanggar hukum yang lalu dijadikan nama yang umum untuk para pelanggar hukum pada waktu itu.

Hingga berabad-abad lamanya sebuah cerita legenda rakyat, kehidupan seseorang bernama Robin Hood diceritakan. Walau begitu, tidak ada tahun yang pasti yang melatari cerita tersebut. Pada tahun 1852, Joseph Hunter, seorang pustakawan dan asisten pencatatan sejarah, menerbitkan kajiannya tentang keberadaan Robin Hood yang sebenarnya.

Referensi paling awal tentang Robin Hood adalah Puisi yang dibuat oleh William Langland ditahun 1377 berjudul ”The Vision of William Concerning Piers Plowman.”Tapi ia bukan sebagai tokoh utama dalam puisi itu. Sedangkan balada yang paling awal yang menceritakan Robin Hood secara lengkap adalah A Gest of Robyn Hode, tahun 1400, yang menghubungkan antara Kota Nottingham, Bernsdale, Hutan Sherwood dan Sheriff of Notingham. Kisah itu sebenarnya menceritakan seorang Raja bernama Edward sedang melakukan perjalanan keliling negeri. Pada saat itu ia bertemu dengan seseorang yang bernama Robin Hood yang sudah sebagai penjahat yang mendapatkan ampunan dan bekerja pada sebuah pengadilan setempat. 15 bulan kemudian, Robin Hood kembali sebagai pemberontak. Robin Hood muncul pula dalam buku yang ditulis oleh Andrew of Wyntoun, Orygynale Chronicle, yang ditulis tahun 1420. Dalam buku itu, kontekstual yang dipakai adalah sejarah di tahun 1283. Dalam buku yang dibuat oleh John Fordum berjudul Scotichronocon, pada tahun 1440 menyebutkan tokoh Robin Hood dan sahabat karibnya Little John sebagai pembunuh yang lalu menjadi simbol masyarakat bawah.

Pada sejarah aslinya, Raja Edward II memang gemar mengembara sepanjang Inggris Raya. Balada itu menceritakan ketika Raja Edward sedang melakukan perjalanan di antara bulan april dan November tahun 1323. Disamping itu, Joseph Hunter juga menemukan catatan keberadaan seseorang yang bernama Robyn Hood yang bekerja pada pengadilan setempat ditanggal 24 maret hingga 22 November 1324. Yang lalu diberhentikan dengan alasan tidak dapat dipekerjakan lagi. Dengan asumsi ini, kedua tokoh tersebut kemungkinan bertemu karena berada pada tahun dan bulan yang sama.

Beberapa nama ditawarkan oleh beberapa ahli sejarah sebagai Robin Hood yang asli. Dari nama-nama tersebut kesemuanya memiliki kesamaan visi yaitu membela rakyat lemah dari tirani. Nama-nama tersebut adalah :

  1. Robert Fitz Ooth – Earl of Huntington (1160-1247)
Teori ini diusung oleh Dr. William Stukeley. Robert lahir di Loxley dan hidup hingga 87 tahun. Robert Fitz Ooth adalah pelanggar hukum di abad 12 yang tanahnya dikuasai oleh Earl of Chester (sebuah nama yang berhubungan dengan Robin Hood dalam “Vision of Piers the Plowman.”). Namun teori ini mendapatkan sanggahan cukup keras oleh Prof. J.C. Holt yang mengatakan kemungkinan ini sangat dipaksakan dan penuh khayalan.

  1. Robert De Kyme (1210 – 1285)
Robert De Kyme merupakan anak tertua dari William de Kyme yang mengalir darah orang-orang Saxon. Robert de Kyme adalah pelanggar hukum di tahun 1226 karena perampokan dan mengganggu ketenangan Raja. Ia di ampuni di tahun 1227. Menurut Jim Lees, seorang peneliti sejarah, biografi Robert de Kyme memiliki kemiripan dengan Balada “A Geste” termasuk kembalinya Robert de Kyme ke hutan sebagai pelanggar hukum setelah pengampunannya di tahun 1227.

  1. Robin Hood of The Wakefirld Rolls (1290-1347)
Pada tahun 1852, seorang peneliti sejarah, Joseph Hunter, mengemukakan sebuah dokumen sejarah yang mengacu pada spekulasi keberadaan Robin Hood sebagai Robert Hood yang muncul di lembaga persidangan di Wakefield Court Rolls pada tahun 1316 dan tahun 1317. Berdasarkan teorinya, Robert Hood menjadi pemberontak bukan karena pelanggaran hukum, tapi sebagai bagian dalam mendukung Thomas, Earl of Lancester, yang memberontak melawan Raja Edward XI dalam pertempuran Boroughbridge di tahun 1322.

Robert Hood lahir di Loxley dekat Sheffield. Pada umur 15 tahun ia membunuh ayah tirinya karena sebuah argumen. Ia lari ke Barnsdale lalu ke Wakefield, dimana ia tertangkap dan disidangkan.

Di tahun 1317, Earl of Lancester mulai membuat pertahanan militer dari rakyat-rakyat jelata sekitar Wakefield untuk melawan Raja Edward XI dan bangsawan-bangsawan pendukungnya. Pada tahun 1322, para pemberontak menyerang pasukan kerajaan di Boroughbridge tapi kalah dan di eksekusi. Tanah para pemberontak di ambil secara paksa dan di deklarasikan sebagai palanggar hukum. Robert Hood mengumpulkan rakyat-rakyat miskin dan terbuang di hutan Barnsdale untuk hidup dan bertahan di sana.

  1. Sir Robert Foliot (1110-1165)
Sebuah buku yang ditulis Tony Molyneux-Smith mengedepankan teori baru tentang identitas asli Robin Hood. Pendekatan baru ini menempatkan seorang pelanggar hukum yang diluar kebiasaan yaitu bahwa Robin Hood adalah sebuah nama yang dipakai dan diturunkan turun temurun oleh sebuah keluarga bernama Foliot yang menguasai sebuah tempat bernama Wellow di abad 14. Penulis buku itu percaya bahwa Wellow adalah tempat yang mirip dengan hutan Sherwood. Dan keluarga Foliot menggunakan nama Robin Hood untuk menyembunyikan identitas aslinya ketika membela rakyat kecil dan menentang pemerintah yang lalim. Teori ini kurang populer dalam komunitas pencinta legenda Robin Hood.

  1. Robert Hod / Hobbehod
Di tahun 1936, LVD Owen mengedepankan kandidat yang lain tentang identitas Robin Hood. Teori ini berdasarkan catatan pengadilan York pada tahun 1226. Catatan yang lain di tahun yang sama seseorang bernama ‘Hobbehod’ kata lain dari Robert Hod.

Satu hal yang tercatat, pada masa-masa awal legenda itu berkembang, Robin Hood digambarkan bukan dari kalangan aristokrat (Earl of Loxley / Locksley), seperti pada beberapa cerita. Melainkan dari rakyat jelata atau perwira rendahan yang memberontak karena tekanan atas perlakuan hukum yang lebih memihak pada kalangan kaum berada. Dalam cerita yang lain, Robin Hood diceritakan seorang veteran perang salib yang kembali ke Inggris dan menemukan tanahnya sudah dikuasai oleh orang lain dengan paksa. Dalam cerita yang lain pula Robin Hood diceritakan sebagai pemberontak yang keras kepala yang menyukai pertumpahan darah, pembantaian dann pemenggalan terhadap musuh-musuhnya. Cerita Robin Hood memang sering berbeda dalam periode-periode tertentu sebagai bagian dari penceritaan moral dan nilai-nilai yang dibawa dalam sebuah komunitas.

Berdasarkan legenda, Robin Hood, ditemani oleh Little John, melakukan perjalanan ke Biara di Kirklees, di antara kota Brighouse dan Mirfield, Yorkshire, untuk mengobati lukanya. Ia kemudian dikhianati dan dibunuh oleh sepupunya, seorang biarawati dibantu oleh Sir Roger of Doncester. Robin Hood lalu meminta untuk dikuburkan di daerah itu, tempat dimana ia melesatkan panah terakhir menjelang kematiannya. Di era sekarang ini, di sekitar reruntuhan biara itu, 600 meter dari gerbang biara, sebuah nisan di temukan dan bertuliskan “Here lies Robin Hued..” Hal ini juga di sebutkan dalam A Gest of Robyn Hode. Akan tetapi dalam tulisan Thomas Gale, Dean of York (1635-1702), Kematian Robin Hood yang diceritakan Ritson terjadi di tanggal 18 November 1247, ditempat yang sama, di usianya yang ke 67 tahun yang di sebutkan sebagai Earl of Huntington. Sedangkan nisan Little John di temukan di daerah kecil di kota Hathersage.


Dalam cerita yang telah berkembang, Kisah Robin Hood mengambil tempat di hutan Sharewood di Nottinghamshire. Akan tetapi ada juga balada yang menyebutkan kisah Robin Hood di Barnsdale, sebuah area di antara Pontefract dan Doncester dan beberapa kisah yang menyebutkan lokasi di Locksley / Loxley di Sheffield. Tempat terakhir di duga sebagai tempat peristirahatan Robin Hood dalam masa pensiunnya di tahun 1245, yang kemudian tercatat sebagai Robert of Locksley dalam sebuah pengadilan. Dipercaya, gerakan perjuangan Robin Hood meliputi area yang luas dan berpindah-pindah.

Di hutan barnsdale paling tidak ada satu sumur di North Road yang diberi nama ‘Robin Hood’s Well’, ‘Little John’s Well’ dekat Hampole dan sungai bernama ‘Robin Hood’s Stream di Highfields Wood di Woodland. Sebuah pohon oak tua di Nothinghamshire, walaupun keberadaannya masih sering diperdebatkan, disebut-sebut sebagai area tempat tinggal Robin Hood yang sekarang dijadikan lokasi wisata lokal. Pohon itu disebut juga Sycamore Gap, Hadrian’s Wall. Tempat ini pula dijadikan lokasi film Robin Hood : Prince of Thieves.

Sholahuddin Al Ayyubi... Si Singa Allah...


PEDANG SHOLAHUDDIN AL-AYYUBI



Sebagai pengagum 'Singa Allah'... maka artikel ini kujadikan koleksi peribadi... Sumber tercatit di hujung kisah.. selamat membaca..


Sholahuddin Al Ayyubi (532 – 589 H


Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13-23 H/634-644 M) Jerussalam dapat dikuasai oleh kaum muslimin dalam suatu penyerahan kuasa secara damai. Sayidina Umar sendiri datang ke Jerussalem untuk menerima penyerahan kota Suci itu atas desakan dan persetujuan Uskup Agung Sophronius.
Berabad abad lamanya kota itu berada di bawah pentadbiran Islam, tapi penduduknya bebas memeluk agama dan melaksanakan ajaran agamanya masing-masing tanpa ada gangguan. Orang-orang Kristian dari seluruh dunia juga bebas datang untuk mengerjakan haji di kota Suci itu dan mengerjakan upacara keagamaannya.
Berabad abad lamanya kota itu berada di bawah pentadbiran Islam, tapi penduduknya bebas memeluk agama dan melaksanakan ajaran agamanya masing-masing tanpa ada gangguan. Orang-orang Kristian dari seluruh dunia juga bebas datang untuk mengerjakan haji di kota Suci itu dan mengerjakan upacara keagamaannya. Orang-orang Kristian dari Eropah datang mengerjakan haji dalam jumlah rombongan yang besar dengan membawa obor dan pedang seperti tentara. Sebahagian dari mereka mempermainkan pedang dengan dikelilingi pasukan gendang dan seruling dan diiringkan pula oleh pasukan bersenjata lengkap.
Sebelum Jerussalem ditadbir Kerajaan Seljuk pada tahun 1070, upacara seperti itu dibiarkan saja oleh umat Islam, kerana dasar toleransi agama. Setelah Kerajaan Seljuk memerintah, upacara seperti itu dilarang dengan alasan keselamatan. Mungkin kerana upacara tersebut semakin berbahaya. Lebih-lebih lagi kumpulan-kumpulan yang mengambil bahagian dalam upacara itu sering menyebabkan pergaduhan dan huruhara. Disebutkan bahawa pada tahun 1064 ketua Uskup memimpin pasukan seramai 7000 orang jemaah haji yang terdiri dari kumpulan Baron-baron dan para pahlawan telah menyerang orang-orang Arab dan orang-orang Turki.
Sebelum Jerussalem ditadbir Kerajaan Seljuk pada tahun 1070, upacara seperti itu dibiarkan saja oleh umat Islam, kerana dasar toleransi agama. Akan tetapi apabila Kerajaan Seljuk memerintah, upacara seperti itu tidak dibernarkan, dengan alasan keselamatan. Mungkin kerana upacara tersebut semakin berbahaya. Lebih-lebih lagi kumpulan-kumpulan yang mengambil bahagian dalam upacara itu sering menyebabkan pergaduhan dan huruhara. Disebutkan bahawa pada tahun 1064 ketua Uskup memimpin pasukan seramai 7000 orang jemaah haji yang terdiri dari kumpulan Baron-baron dan para pahlawan telah menyerang orang-orang Arab dan orang-orang Turki.
Tindakan Seljuk  itu  menjadi salah anggapan  oleh orang-orang Eropah. Pemimpin-pemimpin agama mereka menganggap bahwa kebebasan agamanya diganggu oleh orang-orang Islam dan menyeru agar Tanah Suci itu dibebaskan dari genggaman umat Islam. Patriach Ermite adalah paderi yang paling lantang membangkitkan kemarahan umat Kristian. Dalam usahanya untuk menarik simpati umat Kristian, Ermite telah berkeliling Eropah dengan mengenderai seekor keledai sambil memikul kayu Salib besar, berkaki ayam dan berpakaian compang camping. Dia telah berpidato di hadapan orang ramai sama ada di dalam gereja, di jalan-jalan raya atau di pasar-pasar. Katanya, dia melihat pencerobohan kesucian ke atas kubur Nabi Isa oleh Kerajaan Turki Seljuk. Diceritakan bahawa jemaah haji Kristian telah dihina, dizalimi dan dinista oleh orang-orang Islam di Jerussalem. Serentak dengan itu, dia menggalakkan orang ramai agar bangkit menyertai perang untuk membebaskan Jerussalem dari tangan orang Islam. Hasutan Ermite berhasil dengan menggalakkan
Paus Urbanus II mengumumkan ampunan seluruh dosa bagi yang bersedia dengan suka rela mengikuti Perang Suci itu, sekalipun sebelumnya dia merupakan seorang perompak, pembunuh, pencuri dan sebagainya. Maka keluarlah ribuan umat Kristian untuk mengikuti perang dengan memikul senjata untuk menyertai perang Suci. Mereka yang ingin mengikuti perang ini diperintahkan agar meletakkan tanda Salib di badannya, oleh kerana itulah perang ini disebut Perang Salib.
Paus Urbanus menetapkan tarikh 15 Ogos 1095 bagi pemberangkatan tentera Salib menuju Timur Tengah, tapi kalangan awam sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi setelah dijanjikan dengan berbagai kebebasan, kemewahan dan habuan. Mereka mendesak Paderi Patriach Ermite agar berangkat memimpin mereka. Maka Ermite pun berangkat dengan 60,000 orang pasukan, kemudian disusul oleh kaum tani dari Jerman seramai 20.000, datang lagi 200,000 orang menjadikan jumlah keseluruhannya 300,000 orang lelaki dan perempuan. Sepanjang perjalanan, mereka di izinkan merompak, memperkosa, berzina dan mabuk-mabuk. Setiap penduduk negeri yang dilaluinya, selalu mengalu-alukan dan memberikan bantuan seperlunya.
Akan tetapi sesampainya di Hongaria dan Bulgaria, sambutan sangat dingin, menyebabkan pasukan Salib yang sudah kekurangan makanan ini marah dan merampas harta benda penduduk. Penduduk di dua negeri ini tidak tinggal diam. Walau pun mereka sama-sama beragama Kristian, mereka tidak senang dan bertindak balas. Terjadilah pertempuran sengit dan pembunuhan yang mengerikan. Dari 300,000 orang pasukan Salib itu hanya 7000 sahaja yang selamat sampai di Semenanjung Thracia di bawah pimpinan sang Rahib.


Ketika pasukan Salib itu telah mendarat di pantai Asia kecil, pasukan kaum Muslimin yang di pimpin oleh Sultan Kalij Arselan telah menyambutnya dengan hayunan pedang. Maka terjadilah pertempuran sengit antara kaum Salib dengan pasukan Islam yang berakhir dengan hancur binasanya seluruh pasukan Salib itu. Setelah kaum itu musnah sama sekali, muncullah pasukan Salib yang dipimpin oleh anak-anak Raja Godfrey dari Lorraine Perancis, Bohemund dari Normandy dan Raymond dari Toulouse. Mereka berkumpul di Konstantinopel dengan kekuatan 150,000 laskar, kemudian menyeberang selat Bosfur dan melanggar wliayah Islam bagaikan air bah. Pasukan kaum Muslimin yang hanya berkekuatan 50,000 orang bertahan mati-matian di bawah pimpinan Sultan Kalij Arselan.
Satu persatu kota dan Benteng kaum Muslimin jatuh ke tangan kaum Salib, memaksa Kalij Arselan berundur dari satu benteng ke benteng yang lain sambil menyusun kekuatan dan taktik baru. Bala bantuan kaum Salib datang mencurah-curah dari negara-negara Eropah. Sedangkan Kalij Arselan tidak dapat mengharapkan bantuan dari wilayah-wilayah Islam yang lain, kerana mereka sibuk dengan kemelut dalaman masing-masing.


Setelah berlaku pertempuran sekian lama, akhirnya kaum Salib dapat mengepung Baitul Maqdis, tapi penduduk kota Suci itu tidak mahu menyerah kalah begitu saja. Mereka telah berjuang dengan jiwa raga mempertahankan kota Suci itu selama satu bulan. Akhirnya pada 15 Julai 1099, Baitul Maqdis jatuh ke tangan pasukan Salib, tercapailah cita-cita mereka. Berlakulah keganasan luar biasa yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Kaum kafir Kristian itu telah menyembelih penduduk awam Islam lelaki, perempuan dan kanak-kanak dengan sangat ganasnya. Mereka juga membantai orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristian yang enggan bergabung dengan kaum Salib. Keganasan kaum Salib Kristian yang sangat melampau itu telah dikutuk dan diperkatakan oleh para saksi dan penulis sejarah yang terdiri dari berbagai agama dan bangsa.


Seorang ahli sejarah Perancis, Michaud berkata: “Pada saat penaklukan Jerussalem oleh orang Kristian tahun 1099, orang-orang Islam dibantai di jalan-jalan dan di rumah-rumah. Jerussalem tidak punya tempat lagi bagi orang-orang yang kalah itu. Beberapa orang mencoba mengelak dari kematian dengan cara menghendap-hendap dari benteng, yang lain berkerumun di istana dan berbagai menara untuk mencari perlindungan terutama di masjid-masjid. Namun mereka tetap  tidak dapat menyembunyikan diri dari pengejaran orang-orang Kristian itu. Tentera Salib yang menjadi tuan di Masjid Umar, di mana orang-orang Islam cuba mempertahankan diri selama beberapa lama menambahkan lagi adegan-adegan yang mengerikan yang menodai penaklukan Titus. Tentera infanteri dan kaveleri lari tunggang langgang di antara para buruan. Di tengah huru-hara yang mengerikan itu yang terdengar hanya rintihan dan jeritan kematian. Orang-orang yang menang itu memijak-mijak tumpukan mayat ketika mereka lari mengejar orang yang cuba menyelamatkan diri dengan sia-sia.
Raymond d’Agiles, yang menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepalanya sendiri mengatakan: “Di bawah serambi masjid yang melengkung itu, genangan darah dalamnya mencecah lutut dan mencapai tali kekang kuda.”
Michaud berkata: “Semua yang tertangkap yang disisakan dari pembantaian pertama, semua yang telah diselamatkan untuk mendapatkan upeti, dibantai dengan kejam. Orang-orang Islam itu dipaksa terjun dari puncak menara dan bumbung-bumbung rumah, mereka dibakar hidup  -hidup  , diheret dari tempat peersembunyian bawah tanah, diheret ke hadapan umum dan dikurbankan di tiang gantungan.
Air mata wanita, tangisan kanak-kanak, begitu juga pemandangan dari tempat Yesus Kristus memberikan ampun kepada para algojonya, sama sekali tidak dapat meredhakan nafsu membunuh orang-orang yang menang itu. Penyembelihan itu berlangsung selama seminggu. Beberapa orang yang berhasil melarikan diri, dimusnahkan atau dikurangkan bilangannya dengan perhambaan atau kerja paksa yang mengerikan.”


Gustav Le Bon telah mensifatkan penyembelihan kaum Salib Kristian sebagaimana kata-katanya: “Kaum Salib kita yang “bertakwa” itu tidak memadai dengan melakukan berbagai bentuk kezaliman, kerosakan dan penganiayaan, mereka kemudian mengadakan suatu mesyuarat yang memutuskan supaya dibunuh saja semua penduduk Baitul Maqdis yang terdiri dari kaum Muslimin dan bangsa Yahudi serta orang-orang Kristian yang tidak memberikan pertolongan kepada mereka yang jumlah mencapai 60,000 orang. Orang-orang itu telah dibunuh semua dalam masa 8 hari saja termasuk perempuan, kanak-kanak dan orang tua, tidak seorang pun yang terkecuali.


Ahli sejarah Kristian yang lain, Mill, mengatakan: “Ketika itu diputuskan bahawa rasa kasihan tidak boleh diperlihatkan terhadap kaum Muslimin. Orang-orang yang kalah itu diheret ke tempat-tempat umum dan dibunuh. Semua kaum wanita yang sedang menyusu, anak-anak gadis dan anak-anak lelaki dibantai dengan kejam. Tanah padang, jalan-jalan, bahkan tempat-tempat yang tidak berpenghuni di Jerusssalem ditaburi oleh mayat-mayat wanita dan lelaki, dan tubuh kanak-kanak yang koyak-koyak. Tidak ada hati yang lebur dalam keharuan atau yang tergerak untuk berbuat kebajikan melihat peristiwa mengerikan itu.”
Jatuhnya kota Suci Baitul Maqdis ke tangan kaum Salib telah mengejutkan para pemimpin Islam. Mereka tidak menyangka kota Suci yang telah dikuasainya selama lebih 500 tahun itu boleh terlepas dalam sekelip mata. Mereka sedar akan kesilapan mereka kerana berpecah belah. Para ulama telah berbincang dengan para Sultan, Emir dan Khalifah agar mengambil berat dalam perkara ini.
Usaha mereka berhasil. Setiap penguasa negara Islam itu bersedia bergabung tenaga untuk merampas balik kota Suci tersebut. Di antara pemimpin yang paling gigih dalam usaha menghalau tentera Salib itu ialah Imamuddin Zanki dan diteruskan oleh anaknya Emir Nuruddin Zanki dengan dibantu oleh panglima Asasuddin Syirkuh.
Setelah hampir empat puluh tahun kaum Salib menduduki Baitul Maqdis, Shalahuddin Al-Ayyubi baru lahir ke dunia. Keluarga Shalahuddin taat beragama dan berjiwa pahlawan. Ayahnya, Najmuddin Ayyub adalah seorang yang termasyhur dan beliau pulalah yang memberikan pendidikan awal kepada Shalahuddin. Sholahuddin Yusuf bin Najmuddin Ayyub dilahirkan di Takrit Irak pada tahun 532 Hijrah /1138 Masihi dan wafat pada tahun 589 H/1193 M di Damsyik. Sholahuddin terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nuruddin Zangi.
Selain belajar Islam, Sholahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Kekhalifahan. Bersama dengan pamannya Sholahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimiah (turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW).
Pada tahun 549 H/1154 M, panglima Asasuddin Syirkuh memimpin tenteranya merebut dan menguasai Damsyik. Shalahuddin yang ketika itu baru berusia 16 tahun turut serta sebagai pejuang. Pada tahun 558 H/1163 Masihi, panglima Asasuddin membawa Shalahuddin Al-Ayyubi yang ketika itu berusia 25 tahun untuk menundukkan Daulat Fatimiyah di Mesir yang diperintah oleh Aliran Syiah Ismailiyah yang semakin lemah.Usahanya berhasil. Khalifah Daulat Fatimiyah terakhir Adhid Lidinillah dipaksa oleh Asasuddin Syirkuh untuk menandatangani perjanjian. Akan tetapi, Wazir besar Shawar merasa cemburu melihat Syirkuh semakin popular di kalangan istana dan rakyat.
Dengan senyap-senyap dia pergi ke Baitul Maqdis dan meminta bantuan dari pasukan Salib untuk menghalau Syirkuh daripada berkuasa di Mesir. Pasukan Salib yang dipimpin oleh King Almeric dari Jerussalem menerima baik jemputan itu. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Asasuddin dengan King Almeric yang berakhir dengan kekalahan Asasuddin. Setelah menerima syarat-syarat damai dari kaum Salib, panglima Asasuddin dan Shalahuddin dibenarkan balik ke Damsyik.
Kerjasama Wazir besar Shawar dengan orang kafir itu telah menimbulkan kemarahan Emir Nuruddin Zanki dan para pemimpin Islam lainnya termasuk Baghdad. Lalu dipersiapkannya tentera yang besar yang tetap  dipimpin oleh panglima Syirkuh dan Shalahuddin Al-Ayyubi untuk menghukum si pengkhianat Shawar. King Almeric terburu-buru menyiapkan pasukannya untuk melindungi Wazir Shawar setelah mendengar kemaraan pasukan Islam. Akan tetapi Panglima Syirkuh kali ini bertindak lebih pantas dan berhasil membinasakan pasukan King Almeric dan menghalaunya dari bumi Mesir dengan aib sekali.
Panglima Shirkuh dan Shalahuddin terus mara ke ibu kota Kaherah dan mendapat tentangan dari pasukan Wazir Shawar. Akan tetapi pasukan Shawar hanya dapat bertahan sebentar saja, dia sendiri melarikan diri dan bersembunyi. Khalifah Al-Adhid Lidinillah terpaksa menerima dan menyambut kedatangan panglima Syirkuh buat kali kedua.


Suatu hari panglima Shalahuddin Al-Ayyubi berziarah ke kuburan seorang wali Allah di Mesir, ternyata Wazir Besar Shawar dijumpai bersembunyi di situ. Shalahuddin segera menangkap Shawar, dibawa ke istana dan kemudian dihukum bunuh. Khalifah Al-Adhid melantik panglima Asasuddin Syirkuh menjadi Wazir Besar menggantikan Shawar. Wazir Baru itu segera melakukan perbaikan dan pembersihan pada setiap institusi kerajaan secara berperingkat. Sementara anak saudaranya, panglima Shalahuddin Al-Ayyubi diperintahkan membawa pasukannya mengadakan pembersihan di kota-kota sepanjang sungai Nil sehingga Assuan di sebelah utara dan bandar-bandar lain termasuk bandar perdagangan Iskandariah.


Wazir Besar Syirkuh tidak lama memegang jawatannya, kerana beliau wafat pada tahun 565 H/1169 M. Khalifah Al-Adhid melantik panglima Shalahuddin Al-Ayyubi menjadi Wazir Besar menggantikan Syirkuh dengan mendapat persetujuan pembesar-pembesar Kurdi dan Turki. Walaupun berkhidmat di bawah Khalifah Daulat Fatimiah, Shalahuddin tetap  menganggap Emir Nuruddin Zanki sebagai ketuanya.


Nuruddin Zanki berulang kali mendesak Shahalahuddin agar menangkap Khalifah Al-Adhid dan mengakhiri kekuasaan Daulat Fatimiah untuk seterusnya diserahkan semula kepada Daulat Abbasiah di Baghdad. Akan tetapi Shalahuddin tidak mahu bertindak terburu-buru, beliau memperhatikan keadaan sekelilingnya sehingga musuh-musuh dalam selimut betul-betul lumpuh.
Barulah pada tahun 567 H/1171 Masihi, Shalahuddin mengumumkan penutupan Daulat Fatimiah dan kekuasaan diserahkan semula kepada Daulat Abbasiah. Maka doa untuk Khalifah Al-Adhid pada khutbah Jumaat hari itu telah ditukar kepada doa untuk Khalifah Al-Mustadhi dari Daulat Abbasiah.
Ketika pengumuman peralihan kuasa itu dibuat, Khalifah Al-Adhid sedang sakit kuat, sehingga beliau tidak mengetahui perubahan besar yang berlaku di dalam negerinya dan tidak mendengar bahawa Khatib Jumaat sudah tidak mendoakan dirinya lagi. Sehari selepas pengumuman itu, Khalifah Al-Adhid wafat dan dikebumikan sebagaimana kedudukan sebelumnya, yakni sebagai Khalifah.
Dengan demikian berakhirlah kekuasaan Daulat Fatimyah yang dikuasai oleh kaum Syi’ah selama 270 tahun. Keadaan ini sememangnya telah lama ditunggu-tunggu oleh golongan Ahlussunnah di seluruh negara Islam lebih-lebih lagi di Mesir sendiri. Apalagi setelah Wazir Besar Shawar berkomplot dengan kaum Salib musuh Islam. Pengembalian kekuasaan kepada golongan Sunni itu telah disambut meriah di seluruh wilayah-wilayah Islam, lebih-lebih di Baghdad dan Syiria atas restu Khalifah Al-Mustadhi dan Emir Nuruddin Zanki.
Mereka sangat berterima kasih kepada Panglima Shalahuddin Al-Ayyubi yang dengan kebijaksanaan dan kepintarannya telah menukar suasana itu secara aman dan damai. Serentak dengan itu pula, Wazir Besar Shalahuddin Al-Ayyubi telah merasmikan Universiti Al-Azhar yang selama ini dikenal sebagai pusat pengajian Syiah kepada pusat pengajian Ahlussunnah Wal Jamaah. Semoga Allah membalas jasa-jasa Shalahuddin.


Walaupun sangat pintar dan bijak mengatur strategi dan berani di medan tempur, Shalahuddin berhati lembut, tidak mahu menipu atasan demi  kekuasaan dunia. Beliau tetap  setia pada atasannya, tidak mahu merampas kuasa untuk kepentingan peribadi. Kerana apa yang dikerjakannya selama ini hanyalah mencari peluang untuk menghalau tentera Salib dari bumi Jerussalem. Untuk tujuan ini, beliau berusaha menyatu padukan wilayah-wilyah Islam terlebih dahulu, kemudian menghapuskan para pengkhianat agama dan negara agar peristiwa Wazir Besar Shawar tidak berulang lagi.


Di Mesir, beliau telah berkuasa penuh, tapi masih tetap  taat setia pada kepimpinan Nuruddin Zanki dan Khalifah di Baghdad. Tahun 1173 M, Emir Nuruddin Zanki wafat dan digantikan oleh puteranya Ismail yang ketika itu baru berusia 11 tahun dan bergelar Mulk al Shalih. Para ulama dan pembesar menginginkan agar Emir Salahudin mengambil alih kuasa kerana tidak suka kepada Mulk al-Shalih keran selalu cuai melaksanakan tanggungjawabnya dan suka bersenang-senang. Akan tetapi Shalahuddin tetap  taat setia dan mendoakan Mulk al Saleh dalam setiap khutbah Jumaat, bahkan mengabadikannya pada mata wang syiling.
Apabila Damsyik terdedah pada serangan kaum Salib, barulah Shalahudin menggerakkan pasukannya ke Syiria untuk mempertahankan kota itu daripada jatuh. Tidak lama kemudian Ismail wafat, maka Shalahuddin menyatukan Syria dengan Mesir dan menubuhkan Emirat Al-Ayyubiyah dengan beliau sendiri sebagai Emirnya yang pertama. Tiada berapa lama kemudian, Sultan Shalahuddin dapat menggabungkan negeri-negeri An-Nubah, Sudan, Yaman dan Hijaz ke dalam kekuasaannya yang besar. Negara di Afirka yang telah diduduki oleh askar Salib dari Normandy, juga telah dapat direbutnya dalam masa yang singkat. Dengan ini kekuasaan Shalahuddin telah cukup   besar dan kekuatan tenteranya cukup   ramai untuk mengusir tentera kafir Kristian yang menduduki Baitul Maqdis selama berpuluh tahun.
Sifatnya yang lemah lembut, zuhud, wara’ dan sederhana membuat kaum Muslimin di bawah kekuasaannya sangat mencintainya. Demikian juga para ulama sentiasa mendoakannya agar cita-cita sucinya untuk merampas semula Tanah Suci berhasil dengan segera.
Setelah merasa kuat, Sultan Shalahuddin menumpukan perhatiannya untuk memusnahkan tentera Salib yang menduduki Baitul Maqdis dan merebut kota Suci itu semula. Banyak rintangan dan problem yang dialami oleh Sultan sebelum maksudnya tercapai. Siasah yang mula-mula dijalankannya adalah mengajak tentera Salib untuk berdamai. Pada lahirnya, kaum Salib memandang bahawa Shalahuddin telah menyerah kalah, lalu mereka menerima perdamaian ini dengan sombong. Sultan sudah menjangka bahawa orang-orang kafir Kristian itu akan mengkhianati perjanjian, maka ini akan menjadi alasan bagi beliau untuk melancarkan serangan. Untuk ini, beliau telah membuat persiapan secukupnya.
Ternyata memang betul, baru sebentar perjanjian ditandatangani, kaum Salib telah mengadakan pelanggaran. Maka Sultan Shalahuddin, segera bergerak melancarkan serangan, tapi kali ini masih gagal dan beliau sendiri hampir kena tawan. Beliau kembali ke markasnya dan menyusun kekuatan yang lebih besar.
Suatu kejadian yang mengejutkan Sultan dalam suasana perdamaian adalah tindakan seorang panglima Salib Count Rainald de Chatillon yang bergerak dengan pasukannya untuk menyerang kota Suci Makkah dan Madinah. Akan tetapi pasukan ini hancur binasa digempur mujahid Islam di laut Merah dan Count Rainald dan sisa pasukannya balik ke Jerussalem. Dalam perjalanan, mereka telah berjumpa  dengan satu iring-iringan kafilah kaum Muslimin yang didalamnya terdapat seorang saudara perempuan Sultan Shalahuddin. Tanpa berfikir panjang, Count dan kuncu-kuncunya menyerang kafilah tersebut dan menawan mereka termasuk saudara perempuan kepada Shalahuddin. 
Dengan angkuh Count berkata: “Apakah Muhammad, Nabi mereka itu mampu datang untuk menyelamatkan mereka?”

Seorang anggota kafilah yang dapat meloloskan diri terus lari dan melapor kepada Sultan apa yang telah terjadi. Sultan sangat marah terhadap pencabulan gencatan senjata itu dan mengirim perutusan ke Jerussalem agar semua tawanan dibebaskan. Tapi mereka tidak memberikan jawapan. Ekoran kejadian ini, Sultan keluar membawa pasukannya untuk menghukum kaum Salib yang sering mengkhianati janji itu. Terjadilah pertempuran yang sangat besar di gunung Hittin sehingga dikenal dengan Perang Hittin.
Dalam pertempuran ini, Shalahuddin menang besar. Pasukan musuh yang berjumlah 45,000 orang hancur binasa dan hanya tinggal beberapa ribu saja yang sebagian besarnya menjadi tawanan termasuk Count Rainald de Chatillon sendiri. Semuanya diangkut ke Damaskus. Count Rainald yang telah menawan saudara perempuan Sultan dan mempersendakan Nabi Muhammad itu digiring ke hadapan beliau.


“Nah, bagaimana jadinya yang telah nampak oleh engkau sekarang? Apakah saya tidak cukup   menjadi pengganti Nabi Besar Muhammad untuk melakukan pembalasan terhadap berbagai penghinaan engkau itu?” tanya Sultan Shalahuddin.Shalahuddin mengajak  Count agar masuk Islam, tapi dia tidak mahu. Maka dia pun dihukum bunuh kerana telah menghina Nabi Muhammad.


Setelah melalui berbagai peperangan dan menaklukkan berbagai benteng dan kota, sampailah Sultan Shalahuddin pada matlamat utamanya iaitu merebut Baitul Maqdis. Kini beliau mengepung Jerussalem selama empat puluh hari membuat penduduk di dalam kota itu tidak dapat berbuat apa-apa dan kekurangan keperluan asas. Waktu itu Jerussalem dipenuhi dengan kaum pelarian dan orang-orang yang selamat dalam perang Hittin. Tentera pertahanannya sendiri tidak kurang dari 60,000 orang.


Pada mulanya Sultan menyerukan seruan agar kota Suci itu diserahkan secara damai. Beliau tidak ingin bertindak seperti yang dilakukan oleh Godfrey dan orang-orangnya pada tahun 1099 untuk membalas dendam. Akan tetapi pihak Kristian telah menolak tawaran baik dari Sultan, bahkan mereka mengangkat Komandan Perang untuk mempertahankan kota itu. Kerana mereka menolak seruan, Sultan Shalahuddin pun bersumpah akan membunuh semua orang Kristian di dalam kota itu sebagai membalas dendam ke atas peristiwa 90 tahun yang lalu. Mulailah pasukan kaum Muslimin melancarkan serangan ke atas kota itu dengan anak panah dan manjanik.
Kaum Salib membalas serangan itu dari dalam benteng. Setelah berlangsung serangan selama empat belas hari, kaum Salib melihat bahawa pintu benteng hampir musnah oleh serangan kaum Muslimin. Para pemimpin kaum Salib mulai merasa takut melihat kegigihan dan kekuatan pasukan Muslim yang hanya tinggal menunggu masa untuk melanggar masuk. Beberapa pemimpin Kristian telah keluar menemui Sultan Shalahuddin menyatakan hasratnya untuk menyerahkan kota Suci secara aman dan minta agar nyawa mereka diselamatkan.
Akan tetapi Sultan menolak sambil berkata: “Aku tidak akan menaklukkan kota ini keculai dengan kekerasan sebagaimana kamu dahulu menaklukinya dengan kekerasan. Aku tidak akan membiarkan seorang Kristian pun melainkan akan kubunuh sebagaimana engkau membunuh semua kaum Muslimin di dalam kota ini dahulu.” 


Setelah usaha diplomatik mereka tidak berhasil, Datuk Bandar Jerussalem sendiri datang menghadap Sultan dengan merendah diri dan minta dikasihani, memujuk dan merayu dengan segala cara. Sultan Shalahuddin tidak menjawabnya.

Akhirnya ketua Kristian itu berkata: “Jika tuan tidak mahu berdamai dengan kami, kami akan balik dan membunuh semua tahanan (terdiri dari kaum Muslimin seramai 4000 orang) yang ada pada kami. Kami juga akan membunuh anak cucu kami dan perempuan-perempuan kami. Setelah itu kami akan binasakan rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang indah-indah, semua harta dan perhiasan yang ada pada kami akan dibakar. Kami juga akan memusnahkan Kubah Shahra’, kami akan hancurkan semua yang ada sehingga tidak ada apa-apa yang boleh dimanfaatkan lagi. Selepas itu, kami akan keluar untuk berperang mati-matian, kerana sudah tidak ada apa-apa lagi yang kami harapkan selepas ini. Tidak seorang pun boleh membunuh kami sehingga sebilangan orang-orang tuan terbunuh terlebih dahulu. Nah, jika demikian keadaannya, kebaikan apalagi yang tuan boleh harapkan?”
Setelah mendengar kata-kata nekat dan ugutan itu, Sultan Shalahuddin menjadi lembut dan kasihan dan bersedia untuk memberikan keamanan. Beliau meminta nasihat para ulama yang mendampinginya mengenai sumpah berat yang telah diucapkannya. Para ulama mengatakan bahawa beliau mesti menebus sumpahnya dengan membayar Kifarat sebagaimana yang telah disyariatkan.
Maka berlangsunglah penyerahan kota secara aman dengan syarat setiap penduduk mesti membayar wang tebusan. Bagi lelaki wajib membayar sepuluh dinar, perempuan lima dinar dan kanak-kanak dua dinar sahaja. Barangsiapa yang tidak mampu membayar tebusan, akan menjadi tawanan kaum Muslimin dan berkedudukan sebagai hamba. Semua rumah, senjata dan alat-alat peperangan lainnya mesti ditinggalkan untuk kaum Muslimin. Mereka boleh pergi ke mana-mana tempat yang aman untuk mereka. Mereka diberi tempo selama empat puluh hari untuk memenuhi syarat-syaratnya, dan Barangsiapa yang tidak sanggup  menunaikannya sehinnga lewat dari waktu itu, ia akan menjadi tawanan. Ternyata ada 16,000 orang Kristian yang tidak sanggup  membayar wang tebusan. Semua mereka ditahan sebagai hamba.
Maka pada hari Jumaat 27 Rajab 583 Hijrah, Sultan Shalahuddin bersama kaum Muslimin memasuki Baitul Maqdis. Mereka melaungkan “Allahu Akbar” dan bersyukur kehadirat Allah s.w.t. Air mata kegembiraan menitis di setiap pipi kaum Muslimin sebaik saja memasuki kota itu. Para ulama dan solehin datang mengucapkan tahniah kepada Sultan Shalahuddin di atas perjuangannya yang telah berhasil. Apalagi tarikh tersebut bersamaan dengan tarikh Isra’ Nabi S.A.W dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Pada  hari Jumaat tersebut, kaum Muslimin tidak sempat melaksankan solat Jumaat di Masjidil Aqsa kerana sempitnya waktu. Mereka terpaksa membersihkan Masjid Suci itu dari babi, kayu-kayu salib, gambar-gambar rahib dan patung-patung yang dipertuhan oleh kaum Kristian. Barulah pada Jumaat berikutnya mereka melaksanakan solat Jumaat di Masjidil Aqsa buat pertama kalinya dalam masa 92 tahun. Kadi Muhyiddin bin Muhammad bin Ali bin Zaki telah bertindak selaku khatib atas izin Sultan Shalahuddin.
Kejatuhan Jerussalem ke tangan kaum Muslimin telah membuat Eropah marah. Mereka melancarkan kutipan yang disebut “Saladin tithe”, yakni derma wajib untuk melawan Shalahuddin yang hasilnya digunakan untuk membiayai perang Salib. Dengan angkatan perang yang besar, beberapa orang raja Eropah berangkat untuk merebut kota Suci itu semula. Maka terjadilah perang Salib ketiga yang sangat sengit. Namun demikian, Shalahuddin masih dapat mempertahankan Jerussalem sehingga perang tamat. Setahun selepas perang Salib ke tiga itu, Sultan Shalahuddin pulang kerahmatullah. Semoga Allah mencucuri rahmat ke atasnya, amin.
Peribadi Seorang Panglima
Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi terbilang sebagai pahlawan dan Panglima Islam yang besar. Pada beliau terkumpul sifat-sifat berani, wara’, zuhud, khusyu’, pemurah, pemaaf, tegas dan lain-lain sifat terpuji. Para ulama dan penulis sejarah telah memberikan kepujian yang melangit. Sifat pemurah dan pemaafnya diakui oleh lawan mahupun kawan.
Seorang penulis sejarah mengatakan: “Hari kematiannya merupakan kehilangan besar bagi agama Islam dan kaum Muslimin, kerana mereka tidak pernah menderita semenjak kehilangan keempat-empat Khalifah yang pertama (Khulafaurrasyidin). Istana, kerajaan dan dunia diliputi oleh wajah-wajah yang tertunduk, seluruh kota terbenam dalam dukacita, dan rakyat mengikuti keranda jenazahnya dengan tangisan dan ratapan.”


Sultan Shalahuddin adalah seorang pahlawan yang menghabiskan waktunya dengan bekerja keras siang dan malam untuk Islam. Hidup  nya sangat sederhana. Minumnya hanya air kosong, makanannya sederhana, pakaiannya dari jenis yang kasar. Beliau sentiasa menjaga waktu-waktu solat dan mengerjakannya secara berjamaah. Dikatakan bahawa beliau sepanjang hayatnya tidak pernah terlepas dari mengerjakan solat jamaah, bahkan ketika sakit yang membawa pada ajalnya, beliau masih tetap  mengerjakan solat berjamaah. Sebaik saja imam masuk berdiri di tempatnya, beliau sudah siap di dalam saf. Beliau suka mendengarkan bacaan Al-Quran, Hadis dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang Hadis, beliau memang mendengarkannya secara teratur, sehingga beliau boleh mengenal jenis-jenis hadis. Hatinya sangat lembut dan pemurah, sering menangis apabila mendengarkan hadis.


Di dalam buku The Historians’ History of the World disebutkan sifat-sifat Shalahuddin sebagai berikut: “Keberanian dan keberhasilan Sultan Shalahuddin itu terjelma seluruhnya pada perkembangan keperibadian yang luar biasa. Sama seperti halnya dengan Emir Imamuddin Zanki dan Emir Nuruddin Zanki, beliau juga merupakan seorang Muslim yang taat. Sudah menjadi kebiasaan bagi Sultan Shalahuddin membacakan Kitab Suci Al-Quran kepada pasukannya menjelang pertempuran berlangsung. Beliau juga sangat disiplin mengqada setiap puasanya yang tertinggal dan tidak pernah lalai mengerjakan solat lima waktu sampai pada akhir hayatnya. Minumannya tidak lain dari air kosong saja, memakai pakaian yang terbuat dari bulu yang kasar, dan mengizinkan dirinya untuk dipanggil ke depan pengadilan. Beliau mengajar sendiri anak-anaknya mengenai agama Islam…….”     Seluruh kaum Muslimin yang menyaksikan kewafatannya menitiskan air mata apabila Sultan yang mengepalai negara yang terbentang luas dari Asia hingga ke Afrika itu hanya meninggalkan warisan 1 dinar dan 36 dirham. Tidak meninggalkan emas, tidak punya tanah atau kebun. Padahal berkhidmat pada kerajaan berpuluh tahun dan memegang jawatan sebagai panglima perang dan Menteri Besar sebelum menubuhkan Emirat Ayyubiyah.
Kain yang dibuat kafannya adalah betul-betul dari warisan beliau yang jelas-jelas halal dan sangat sederhana. Anak beliau yang bernama Fadhal telah masuk ke liang lahad meletakkan jenazah ayahnya. Dikatakan bahawa beliau dikebumikan bersama-sama pedangnya yang dipergunakan dalam setiap peperangan agar dapat menjadi saksi dan dijadikannya tongkat kelak pada hari kiamat. Rahimahullahu anh.


Salahudin Al-Ayubi, beliaulah yang meneladankan satu konsep dan budaya yaitu perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang kita kenal dengan sebutan maulud atau maulid, berasal dari kata milad yang artinya tahun, bermakna seperti pada istilah ulang tahun. Berbagai perayaan ulang tahun di kalangan/organisasi muslim sering disebut sebagai milad atau miladiyah, meskipun maksudnya adalah ulang tahun menurut penanggalan kalender Masehi.


Sumber : http://www.darulnuman.com/mkisah/kisah019.html

Mad.. Moh Tengok Tb(tv)...

Mase aku bebudok dedulu, peel(perangai) aku same seghope(serupa) ngan bebudok sekaghang la. Abih ati mun(kalau) dapat melangut depan tb. Tapi macam aku ceghite dalam 'Roda Kehidupan' dulu... punye le sekse nok dapat nengok tb kome. Keghap beno beghambat(berlari) kulu kelo(ke hulu hilir) nyaghi ghumoh yang ade tb mase tu. Tapi.. bukan sume nok ijinkan aku masuk. Dikunci dideme pintu la.. kene halou la... dibuli dideme pun ade. Kadang tu.. tuan ghumoh pulak tak ade... beghambat la pulok ke ghumoh lain..Bukan alang-alang beghambah kome... ngaloh dikejor di anjin keme tu.. Tejeghombab(jatuh tersungkur) tige pat kali tu biaseee... Lah-lah(akhirnya), ceghite yang nok ditengok abih gitu je.. Kadang-kadang tu pulok, mok aku maghoh ngan peghangei(perangai) aku tu.. malu kan mok bapok kamu je, katenye. Ate.. idok dibaginye la aku ke mane-mane. Macam bebudok sekaghang juge, bile dilaghang ... errmmm.. ngobok(menangis dengan kuat) sakan la jawabnye..

Dulu tb sume itam putih kome... Bile nok nuko(menukar) siaran.. kene pulah 'telinge' kat sebeloh kanan tb. Tapi, bukan payoh sangat pun. Siaran tb cume ade tb 1 ngan tb 2 je.. Tb 1 cerita untuk oghang Melayu. Tb 2 selalunye lebih kepada oghang Cine ngan Indu. Beghite Cine beghite Indu kat tb 2 tu la.. Sebab itu le keme dedulu jaghang(jarang) mukok tb 2 ni..  Siaran tb mule pukui 5 petang mun idok silap aku la.. Dalam pukui 12 malam tu.. ade la lagu Negaraku.. pahtu oghang ngaji sekejap. Abih oghang ngaji...zezezezezezezeze....muke tb jadi putih berbintit-bintit... Kene tunggu pukui 5 esoknye la pulok..


Kampung aku agok ceghuk(pedalaman) sesikit. Tu pasei(sebab) kekadang gambornye idok beghape nok jelah. Tapi deme, tuan punye tb handei(pandai).. Deme caghi batang buloh palin panjang.. Ikat di deme areya(antena tv) kat ujung buloh tu.. Mun kalo idok mau jelah juge.. mole le deme nyaghi tudong peghoyok(periuk) yang beso sekali. Deme selit pahtu ikat kemah-kemah kat areya tadi.. Huissh..! Mau pulak gambornye nyegholang teghang(sangat terang).. Pakei buloh ni.. kaco(masalah)nye bile angin kuat... Buloh goyang..gambor kat tb pun goyang.. Idok pasei-pasei(tak pasal-pasal) tb yang kene maki...Gambo goyang tahan le juge kome.. Mun tampei(err..apa ye ?)nye ghibut...ngan buloh-buloh tu sekali ghuyup(musnah) ke tanoh..hihihi.. Errr... kome paham ke ape yang aku labun(cerita)kan nih..????


Satu petang kawan aku, Antan Ndu ngan Kama manggei(panggil) aku di ghumoh. " Mad.. Moh tengok tb..!!". " Ceghite Otomen petang ni... Sambung lawan ghaksakse(raksasa) haghi tu..". " Kite tengok kat ghumoh Pak Lan yak.. Deme kate ade tb warne Mad.."  Haah... warne ..???. Nengokan warne..aku ngan seluo pendek idok payoh bebaju  melompat ke bawoh ghumoh. Bile keme sampei.. ghamei(ramai) bebudok udoh tercogok depan tb. Aku dapat tempat beloh belakang .. tepi dindien. Betui la warne.. Abih ati aku !. Tapi kome jangan ingat tb tu macam tb warne jaman sekaghang ni. Tb nye tetap le itam putih. Lainnye yelah... depan sekerin tb tu deme lapih ngan papan pelastik. Papan pelastik tu ade 3 jalo warne. Atah sekali meghoh(merah).. tengoh kunin.. bawoh hijo.. Bile muke hero di 'close up'.. mukenye jadi camni.. Ghambutnye meghoh.. Dai(dahi)  ngan matenye kunin.. Mulot ngan giginye hijo ...!!! Ace kome bayangkan... Hebat kan...??


Pssstt..!! Jika kome suka akan entri tentang TV ni.. Aku bercadang untuk bercerita tentang radio dedulu pulak.. Kalau kurang berminat.. cukuplah yang ini saja.. Bimbang kome bosan je.. hihihi... Sila beri respon.